INTERVENSI NGABODOR URANG SUNDA: INOVASI PSIKOLOGI POSITIF DARI BUDAYA LOKAL

oleh Rhaka Katresna (NIM 1404749)
sebagai salah satu tugas Mata Kuliah Isu-isu Psikologi Klinis
Departemen Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia

Budaya ngabodor telah mengingatkan kita bagaimana orang-orang Sunda terdahulu menciptakan riuh tawa antar sesama masyarakat. Itu adalah ciri khas kearifan budaya Sunda yang menjadi suatu pendekatan interpersonal yang ramah. Heureuy yang merupakan bagian dari kegembiraan dan prinsip darehdeh someah hade ka semah. Selera humor orang sunda tampaknya memiliki efek penyembuhan tersendiri. Itu dapat tampak dari ekspresi non verbal wajah yang lebih banyak tersenyum. Meskipun itu dilakukan dengan tanpa semena-mena, tetapi cukup dengan tertawa dan menertawakan, apabila terdesak dilanjutkan dengan menertawakan ketololan diri sendiri (Utuy T Sontani 1957 dalam Sasmita, 2006)

Humor dalam Sunda jarang sekali menertawakan pada kelemahan orang lain, tetapi lebih ditujukan sebagai otokritik yaitu menertawakan kelemahan dirinya sendiri. Ada istilah sunda ngageuing dan ngageyhgeuykeun, dua-duanya mengandung unsur kritik. Ngageuing berarti menasehati supaya orang sadar akan ketidakbaikan atau ketidakbenaran dirinya sehingga bisa berubah, sedangkan ngageuhgeuykeun menasehati dengan berbaju humor bisa berbentuk sindiran atau bentuk lain sehingga ketidakbaikan atau ketidakbenaran menjadi tertawaan orang termasuk orang yang disindir itu sendiri menjadi tertawa (Achdiat K Mihardja 1982 dalam Sasmita, 2006)

Kesenian ngabodor atau melawak sudah menjadi tradisi dan bahkan kebiasaan masyarakat Sunda hingga kini masih digemari. Kesenian sebagai ciri keramahan masyarakat Sunda masih digemari tidak hanya dari kalangan orang tua tetapi segala lapisan masyarakat. (PRLM, 2013).  Mihardja (1982, dalam Sasmita, 2006) menambahkan bahwa humor yang baik adalah humor yang dapat menjadi suatu kontemplasi setelah seseorang itu tertawa, dan diakhiri dengan mawas diri (self-awareness).

Humor dan Psikologi Positif

Psikologi Positif merupakan salah satu pendekatan yang digunakan dalam Psikoterapi atau intervensi klinis. Psikologi Positif fokus pada emosi positif dan kekuatan personal, dapat melengkapi (namun tidak dapat menggantikan) psikoterapi tradisional, dan evaluasi hasil penelitiannya menunjukan dampak yang kebanyakan berjangka kecil dan pendek (Positive psychology in practice, 2008).

Penemuan Psikologi Positif yang akan dibahas dalam esai ini adalah Humor.

Ruch dan McGhee (2014) berasumsi bahwa humor berperan penting dalam mendukung kesejahteraan. Tingkat humor yang lebih tinggi berhubungan dengan kesejahteraan yang lebih baik, dan tingkat depresi, kecemasan dan emosi negatif yang lebih rendah. Karena jumlah kejadian negatif yang dialami seseorang meningkat, individu yang menemukan lebih banyak pengalaman untuk ditertawakan lebih berpengaruh positif daripada mereka yang tidak sering tertawa (dalam Ruch & McGhee, 2014). Oleh karena itu, Peterson dkk. (dalam Ruch & McGhee, 2014) menjelaskan penggunaan humor untuk intervensi seringkali difokuskan sebagai mekanisme coping

McGhee (1996, 2010a) mengembangkan program intervensi humor terstruktur yang menekankan penguatan kebiasaan dan keterampilan humor utama. Dijuluki 7 Program Kebiasaan Humor (7HHP), terdiri dari tujuh kebiasaan inti. Tujuan utama program ini adalah untuk: (i) menunjukkan bahwa humor dapat dilatih/diperkuat, (ii) meningkatkan humor, (iii) meningkatkan frekuensi emosi positif, (iv) mengurangi frekuensi emosi negatif, (v) meningkatkan ketahanan emosi dan kemampuan mengatasi stres. Program ini bertujuan untuk pertama kali membangun atau memperkuat kebiasaan dan keterampilan inti ini pada hari-hari ketika seseorang dalam suasana hati yang baik dan kemudian secara bertahap menerapkan kebiasaan yang sama di tengah tekanan (saat marah, cemas, depresi, dll.). Karena rasa humor sering hilang di tengah stres, minimal satu minggu pengulangan kebiasaan pada “hari baik” dianggap penting untuk kemampuan untuk kemudian mempertahankan kebiasaan pada hari yang buruk (stres).

Berikut adalah Inti Kebiasaan dari Program 7 Kebiasaan Humor

Kebiasaan 1: Kelilingi diri Anda dengan humor (dan pikirkan tentang sifat selera humor Anda)

Dasar Pemikiran: Banyak individu sama sekali tidak memiliki humor “di radar mereka” dalam kehidupan sehari-hari. Mereka jarang mencari humor dan gagal menemukan humor dalam situasi yang dianggap orang lain menjadi lucu. Meningkatkan jumlah waktu dan fokus orang menghabiskan secara aktif berpikir tentang humor berkontribusi pada keuntungan yang dibuat.

Kebiasaan 2:  Menumbuhkan sikap main-main

Dasar Pemikiran: Komponen penting humor adalah kegembiraan dan kesenangan yang datang dari bermain. Humor bisa dianggap sebagai bentuk permainan mental, bermain dengan ide. Sikap main-main mengacu pada kerangka pikiran yang ada yang ditandai dengan penerimaan umum terhadap segala bentuk permainan atau kesenangan.


 

Kebiasaan 3:  Tertawa lebih sering dan lebih tulus.

Dasar Pemikiran: Meskipun, tawa bukanlah keterampilan humor, itu termasuk karena tindakan fisik tawa mungkin menjelaskan beberapa manfaat terhadap kesehatan fisik, kebahagiaan, dan ketahanan akibat humor.

Kebiasaan 4:  Buat humor verbal Anda sendiri

Dasar Pemikiran: Ini adalah keterampilan humor asli pertama – bermain dengan bahasa. Humor verbal adalah salah satu bentuk paling umum dari humor lintas budaya, dan keterampilan / kebiasaan humor verbal yang baik dianggap memainkan peran penting dalam menggunakan humor untuk mendukung suasana hati dan kepuasan hidup sehari-hari yang positif.

Kebiasaan 5:  Carilah humor dalam kehidupan sehari-hari.

Dasar Pemikiran: Menemukan sisi lucu dari kehidupan sehari-hari seseorang dianggap penting bagi tujuan akhir penggunaan humor untuk mengatasi stres. McGhee telah mendengar banyak orang di bengkel humornya sendiri berkata, “Jika saya memiliki hidup Anda, saya juga akan tertawa. Tidak ada yang lucu yang pernah terjadi dalam hidup saya! “Tujuannya di sini adalah untuk menunjukkan bahwa banyak kesempatan untuk humor dalam kehidupan sehari-hari tidak diketahui dan menunjukkan kepada peserta bagaimana untuk mulai memperhatikannya.

Kebiasaan 6:  Tenangkan dirimu sendiri: Tertawailah dirimu sendiri

Dasar Pemikiran: Mampu menertawakan diri sendiri – atas kesalahan, kelemahan, kekurangan diri, dan sebagainya – mendorong penggunaan humor untuk mengatasi stres. Ini biasanya merupakan keterampilan yang paling sulit untuk dikembangkan, karena insiden yang canggung atau memalukan atau menjadi canggung lelucon (atau ditertawakan) biasanya menimbulkan emosi negatif yang mengganggu kemampuan untuk menciptakan dan menikmati humor.

Kebiasaan 7:  Temukan humor di tengah stres

Dasar Pemikiran: Tantangan utama di sini adalah memperluas kebiasaan humor yang sudah berkembang ke situasi yang penuh tekanan. Ini adalah keterampilan emosional, sama seperti masalah intelektual, karena kebanyakan orang merasa bahwa selera humor mereka meninggalkan mereka di tengah tekanan. Emosi negatif (misalnya, ketegangan, kemarahan, atau depresi) mengganggu akses mood dan pola pikir menyenangkan yang dibutuhkan untuk humor.

Prinsip utama dari 7HHP adalah menguatkan setiap kebiasaan humor pada hari-hari baik mood sangat penting untuk membuat kebiasaan tersebut dapat diakses di tengah tekanan.

Intervensi Humor dan Ngabodor

Ketika intervensi humor menjadi salah satu alternatif baru dalam Psikologi Positif sesungguhnya masyarakat Sunda memiliki intervensi itu sejak sangat lama. Namun penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengeksplorasi bagaimana pola kebiasaan ngabodor ini muncul pada komunikasi interpersonal juga terutama dalam hubungannya dengan mood, emosi positif, dan kesejahteraan.

Ngabodor tampak dapat menjadi sebuah landasan untuk menciptakan intervensi humor yang terintegrasi dengan aspek sosio-kultural. Lebih tepatnya untuk dapat lebih mudah mengatasi kecemasan dan depresi. Humor berhubungan dengan spontanitas seseorang dalam menghadapi suatu peristiwa. Ini menjadi suatu cara untuk mengantisipasi peristiwa yang dihadapi seseorang.

Sebagai mahasiswa Psikologi yang hidup di tatar Sunda, ini merupakan alternatif penelitian yang menarik bagi mahasiswa Psikologi. Mengambil ide-ide lokal untuk dijadikan sebuah intervensi Psikologi.

DAFTAR PUSTAKA

Positive psychology in practice. (2008, Mei). Dipetik April 26, 2017, dari Harvard Health Publications: http://www.health.harvard.edu/mind-and-mood/positive_psychology_in_practice

Baginda, P. (2015). ANALISIS HUMOR PERCAKAPAN BERBAHASA SUNDA: SEBUAH ANALISIS PRAGMATIK. BARISTA, 248-263.

Kurniati, A. (2011). Mekanisme Penciptaan Humor dalam Wacana Humor Sunda. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

PRLM. (2013, November 16). “Maenya Kudu Rapat Unggal Beres Nginum Obat?”. Dipetik April 26, 2017, dari Pikiran Rakyat: http://www.pikiran-rakyat.com/serial-konten/20779

Ruch, W., & McGhee, P. E. (2014). Humor Intervention Programs. Dalam A. C. Parks, & S. M. Schueller, Positive Psychological Interventions (hal. 179-193). Chichester: John Wiley & Sons.

Sasmita, M. (2006, Maret 10). RUMAH BACA BUKU SUNDA. Dipetik April 26, 2017, dari “Ngageuing” Melalui Humor Sunda: http://rumahbacabukusunda.blogspot.co.id/2007/02/ngageuing-melalui-humor-sunda.html

Day 1 Modifikasi Perilaku

Senin, 6 Februari 2017

Tujuan:
– mampu mengidentifikasi perubahan perilaku
– merancang program modifikasi perilaku

Aturan
– Kehadiran minimal 80% (14/16)
– keterlambatan maksimal 15 menit
– tidak boleh: merokok, bersandal, berkaos oblong, berpakaian ketat/seksi
– harus mengikuti UTS dan UAS

UTS
Take home test tentang asesmen perilaku dan modifikasi perilaku diri

UAS
Penyusunan laporan asesmen lapangan dan rancangan program modifikasi perilaku, presentasi laporan dan penyerahan laporan pasca presentasi.

Outline Materi
– perilaku manusia?
– apa itu arti perilaku?
– karakteristik perilaku (mittenberger, 2011)
– pengertian modifikasi perilaku
– analisis perilaku
– modifikasi perilaku
– treatment modifikasi perilaku

Clog-Recognition: Pengantar Clognition – Resolusi Mahasiswa Psikologi UPI Angkatan 2014 untuk Departemen Psikologi UPI

Pada perayaan Dies Natalis Psikologi UPI yang ke-12, Kamis, 27 Oktober 2016. Mahasiswa Psikologi UPI angkatan 2014 mementaskan sebuah pertunjukan kontemporer “CLOGNITION: CLOG IGNITE COGNITION”. Pertunjukan yang menggabungkan teknik-teknik dari Expressive Art Therapy, Psikodrama, dan Body Movement ini merupakan resolusi Mahasiswa Psikologi UPI Angkatan 2014 untuk Departemen Psikologi UPI. Pertunjukan ini disaksikan oleh Dosen Pak MIF Baihaqi, Mahasiswa Psikologi UPI, dan Alumni Psikologi UPI.
 

Clog-Recognition

Pengantar Clognition – Resolusi Mahasiswa Psikologi UPI Angkatan 2014 untuk Departemen Psikologi UPI

 
Kamerad. Salam, syalom, sampurasun.
 
Mari berandai-andai, pipa dan toilet mampet di rumah Anda mampet. Lalu, kita teringat pada nomor yang tertera pada selembaran iklan di tiang listik. Nah, apa jadinya bila pada individu, dan individu dalam sistem? Siapa yang akan kita panggil untuk meng-unclog, apa tokoh-tokoh dalam textbook?
 
Terlebih dahulu mari melihat ke dalam waktu yang lalu, apa sih yang membikin macet?Bawalah imaji Anda ke lantai dua, menelusuri lorong yang menaungi Departemen Psikologi, mahasiswa yang berkumpul di hadapan ruang sumber adalah latar belakang keseharian di sini. Duduk berhadapan dengan layar laptop, sebagian yang lain dengan kawan seperkumpulannya, dan ada alunan cerita yang diputar cuma-cuma.
 
Kamerad, jangan beranjak dari Departemen yang dibangun oleh imaji Anda. Alih-alih, kita menemui sisi lain dari mampet yang bisa dibilang,‘dilihat dari belakang sumbat’. Mungkin ini akan sangat mengejutkan bagi Anda, sumbat itu sendiri memang sengaja dipasang. Bila yang pertama terjadi karena kelimpahan di satu sisi, yang satu ini karena keterbatasan untuk menerima semuanya. Tak ada yang salah untuk ini. Sebab kita semua memiliki lensa permanen yang bernama: perspektif. Karena perspektif kitalah berbagai ekspresi ditampilkan, dan mewarnai Departemen. Untuk kemudian, ekspresi yang sama kita terima kembali. Dan semakin mengerti tentang hal ini tanpa perlu bicara lagi. Di luar ekspresi ini, yang ada adalah keganjilan yang terasa asing. Di belakang sumbat itu, tersimpan perspektif, di baliknya tersebunyi pemahaman. Pemahaman yang seluas perspektif kita, seberapa luas jadinya bila tersumbat? Sebelum Anda menemukan jawabannya, pertama-tama berterima kasihlah pada sumbat itu yang telah mengajari kita cara memahami.
 
Tanpa bertele-tele lagi, kita sudah dapat mengetahui apa yang membuat mampet, dan apa yang menjadi sumbat. Tetapi, yang tak boleh dilupakan adalah apa dampak dari mampet ini. Kata kuncinya adalah ‘merasakan’. Dari penyampaian sebelumnya, alur yang kita temui seperti ini, hanya sebagian kecil yang bisa kita dengarkan, berbanding terbalik dengan semua yang terdengar; di sisi lain, kita hanya memahami sebagian kecil saja, yang terlihat dari sudut pandang kita, dan yang tak terhalangi oleh ketidaktahuan; pada akhirnya, kita merasakan apa yang bisa didengarkan, dan dipahami. Mendengarkan, memahami, merasakan, adalah prinsip triadik yang selama ini kita pegang sebagai satu, dan satu keluarga. Krisis pada satu memengaruhi keseluruhannya. Mari, Kamerad, sebelum berjuang untuk perubahan, kita memperjuangkan prinsip triadik kita agar tidak sampai mendengarkan, memahami, dan merasakan sumbat melulu.

Pada semester 4, saya mengontrak:

  1. Psikologi Fenomenologi
  2. Psikologi Sosial 2
  3. Psikologi Abnormal
  4. Psikologi Belajar
  5. Psikologi Kesehatan
  6. Neurologi
  7. Metodologi Penelitian Kuantitatif
  8. Wawancara
  9. Analisis Data Psikologi (Mengulang karena dosen ketika SP tidak menginput nilai)

Diskusi Pasca Pertunjukkan Naskah Monolog Anak Kabut

Kamis (29/10), Teater Lakon bekerjasama dengan Departemen Psikologi menyelenggarakan pertunjukkan naskah monolog “Anak Kabut” di Auditorium Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Monolog ini merupakan bagian dari Ujian Tengah Semester mata kuliah Psikologi Perkembangan 2 yang dihadiri dosen-dosen dari Departemen Psikologi UPI dan mahasiswa dari 4 kelas mata kuliah psikologi (Psikologi Perkembangan A, Psikologi Perkembangan B, Psikologi Klinis, dan Sosiologi-Antropologi).

cropped-10639679_10203562210208503_1515260782089534906_n.jpg

MIF Baihaqi, selaku dosen mata kuliah Psikologi Perkembangan 2, mengadakan sesi diskusi dengan sutradara dan aktris Naskah Anak Kabut. Setelah diskusi singkat, mahasiswa mata kuliah Psikologi Perkembangan mengikuti Ujian Tengah Semester di tempat yang sama.

Diskusi dilanjutkan setelah UTS diakhiri. Saya, Akbar Prawira, Dzikri Rahman, Faris Dzulfiqar ikut serta dalam diskusi tersebut.