Day 1 Modifikasi Perilaku

Senin, 6 Februari 2017

Tujuan:
– mampu mengidentifikasi perubahan perilaku
– merancang program modifikasi perilaku

Aturan
– Kehadiran minimal 80% (14/16)
– keterlambatan maksimal 15 menit
– tidak boleh: merokok, bersandal, berkaos oblong, berpakaian ketat/seksi
– harus mengikuti UTS dan UAS

UTS
Take home test tentang asesmen perilaku dan modifikasi perilaku diri

UAS
Penyusunan laporan asesmen lapangan dan rancangan program modifikasi perilaku, presentasi laporan dan penyerahan laporan pasca presentasi.

Outline Materi
– perilaku manusia?
– apa itu arti perilaku?
– karakteristik perilaku (mittenberger, 2011)
– pengertian modifikasi perilaku
– analisis perilaku
– modifikasi perilaku
– treatment modifikasi perilaku

Clog-Recognition: Pengantar Clognition – Resolusi Mahasiswa Psikologi UPI Angkatan 2014 untuk Departemen Psikologi UPI

Pada perayaan Dies Natalis Psikologi UPI yang ke-12, Kamis, 27 Oktober 2016. Mahasiswa Psikologi UPI angkatan 2014 mementaskan sebuah pertunjukan kontemporer “CLOGNITION: CLOG IGNITE COGNITION”. Pertunjukan yang menggabungkan teknik-teknik dari Expressive Art Therapy, Psikodrama, dan Body Movement ini merupakan resolusi Mahasiswa Psikologi UPI Angkatan 2014 untuk Departemen Psikologi UPI. Pertunjukan ini disaksikan oleh Dosen Pak MIF Baihaqi, Mahasiswa Psikologi UPI, dan Alumni Psikologi UPI.
 

Clog-Recognition

Pengantar Clognition – Resolusi Mahasiswa Psikologi UPI Angkatan 2014 untuk Departemen Psikologi UPI

 
Kamerad. Salam, syalom, sampurasun.
 
Mari berandai-andai, pipa dan toilet mampet di rumah Anda mampet. Lalu, kita teringat pada nomor yang tertera pada selembaran iklan di tiang listik. Nah, apa jadinya bila pada individu, dan individu dalam sistem? Siapa yang akan kita panggil untuk meng-unclog, apa tokoh-tokoh dalam textbook?
 
Terlebih dahulu mari melihat ke dalam waktu yang lalu, apa sih yang membikin macet?Bawalah imaji Anda ke lantai dua, menelusuri lorong yang menaungi Departemen Psikologi, mahasiswa yang berkumpul di hadapan ruang sumber adalah latar belakang keseharian di sini. Duduk berhadapan dengan layar laptop, sebagian yang lain dengan kawan seperkumpulannya, dan ada alunan cerita yang diputar cuma-cuma.
 
Kamerad, jangan beranjak dari Departemen yang dibangun oleh imaji Anda. Alih-alih, kita menemui sisi lain dari mampet yang bisa dibilang,‘dilihat dari belakang sumbat’. Mungkin ini akan sangat mengejutkan bagi Anda, sumbat itu sendiri memang sengaja dipasang. Bila yang pertama terjadi karena kelimpahan di satu sisi, yang satu ini karena keterbatasan untuk menerima semuanya. Tak ada yang salah untuk ini. Sebab kita semua memiliki lensa permanen yang bernama: perspektif. Karena perspektif kitalah berbagai ekspresi ditampilkan, dan mewarnai Departemen. Untuk kemudian, ekspresi yang sama kita terima kembali. Dan semakin mengerti tentang hal ini tanpa perlu bicara lagi. Di luar ekspresi ini, yang ada adalah keganjilan yang terasa asing. Di belakang sumbat itu, tersimpan perspektif, di baliknya tersebunyi pemahaman. Pemahaman yang seluas perspektif kita, seberapa luas jadinya bila tersumbat? Sebelum Anda menemukan jawabannya, pertama-tama berterima kasihlah pada sumbat itu yang telah mengajari kita cara memahami.
 
Tanpa bertele-tele lagi, kita sudah dapat mengetahui apa yang membuat mampet, dan apa yang menjadi sumbat. Tetapi, yang tak boleh dilupakan adalah apa dampak dari mampet ini. Kata kuncinya adalah ‘merasakan’. Dari penyampaian sebelumnya, alur yang kita temui seperti ini, hanya sebagian kecil yang bisa kita dengarkan, berbanding terbalik dengan semua yang terdengar; di sisi lain, kita hanya memahami sebagian kecil saja, yang terlihat dari sudut pandang kita, dan yang tak terhalangi oleh ketidaktahuan; pada akhirnya, kita merasakan apa yang bisa didengarkan, dan dipahami. Mendengarkan, memahami, merasakan, adalah prinsip triadik yang selama ini kita pegang sebagai satu, dan satu keluarga. Krisis pada satu memengaruhi keseluruhannya. Mari, Kamerad, sebelum berjuang untuk perubahan, kita memperjuangkan prinsip triadik kita agar tidak sampai mendengarkan, memahami, dan merasakan sumbat melulu.

Pada semester 4, saya mengontrak:

  1. Psikologi Fenomenologi
  2. Psikologi Sosial 2
  3. Psikologi Abnormal
  4. Psikologi Belajar
  5. Psikologi Kesehatan
  6. Neurologi
  7. Metodologi Penelitian Kuantitatif
  8. Wawancara
  9. Analisis Data Psikologi (Mengulang karena dosen ketika SP tidak menginput nilai)

Diskusi Pasca Pertunjukkan Naskah Monolog Anak Kabut

Kamis (29/10), Teater Lakon bekerjasama dengan Departemen Psikologi menyelenggarakan pertunjukkan naskah monolog “Anak Kabut” di Auditorium Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Monolog ini merupakan bagian dari Ujian Tengah Semester mata kuliah Psikologi Perkembangan 2 yang dihadiri dosen-dosen dari Departemen Psikologi UPI dan mahasiswa dari 4 kelas mata kuliah psikologi (Psikologi Perkembangan A, Psikologi Perkembangan B, Psikologi Klinis, dan Sosiologi-Antropologi).

cropped-10639679_10203562210208503_1515260782089534906_n.jpg

MIF Baihaqi, selaku dosen mata kuliah Psikologi Perkembangan 2, mengadakan sesi diskusi dengan sutradara dan aktris Naskah Anak Kabut. Setelah diskusi singkat, mahasiswa mata kuliah Psikologi Perkembangan mengikuti Ujian Tengah Semester di tempat yang sama.

Diskusi dilanjutkan setelah UTS diakhiri. Saya, Akbar Prawira, Dzikri Rahman, Faris Dzulfiqar ikut serta dalam diskusi tersebut.